“Sebuah perasaan yang sulit tuk dijelaskan jika melihatnya” perkataan yang sering ku ucapkan jika melihat seniorku yang berada dikelas 11 jurusan Ipa yaitu Adam (senior yang berkulit sawo matang dengan paras muka yaahh.. bisa dibilang tampan) kepada sahabatku Luna, Luna adalah sahabatku sejak SD sampai sekarang. Sepertinya bukan dibilang kebetulan kalau aku dan Luna selalu sekelas dari SD, SMP, sampai kelas 1 SMA di kelas 10A. Memang benar yaah kata pepatah kalau sahabat ngga lari kemana hehehe. Oh iya namaku Silvia orang-orang biasanya panggil aku Vivi katanya kalau panggil Silvia kepanjangan (haha ada-ada aja).
Hari Selasa, saat jam istirahat kami semua di perintahkan untuk kumpul di Aula sekolah, ternyata kepala sekolah menyuruh agar kelas 10 dan 11 mengikuti kegiatan Kemah di suatu desa. Setelah diumumkan pasangan kelas ternyata kelasku berpasangan dengan kelas Hasan (disini berpasangan kelas agar kelas 11 bisa menjaga adik kelasnya yaitu kelas 10) “aa…..” teriak gembiraku seketika, orang-orang langsung diam dan menatapku akupun hanya bisa tersenyum dengan malu. Kepala sekolah juga memberitahukan bahwa kegiatan sosial itu akan diadakan lusa nanti.
“Lun.. aku bener-bener ngga percaya kalau kepala sekolah memasangkan kelas kita dengan kelas Adam”.
“iya yah, kok kaya kebetulan banget apa jangan-jangan kamu emang jodoh ama Adam kali yah”
“hahaha aminn dehh”
Pada hari selanjutnya..
“yaaah anak-anak sekarang kalian harus berkumpul dengan pasangan kalian” kata guru Pembina. Aku dan Luna pun berlari dan sebisa mungkin bisa berdekatan dengan Adam.
“kalian berdua anak 10A yah?”
“a.. iya kak kami berdua dari 10A” kataku dengan bersemangat
“oh, kalau begitu ayo bus kita ada disebelah sana”
“baik kak”
“astagaaa… aku ngga percaya tadi ngobrol sama Adam” bisikku kepada Luna.
“ciee.. yang lagi seneng-senengnya, oh iya tuh Adam udah naik kedalam bus”
“hahh mana mana, oh iya ya kalau begitu ayo cepet nanti duduknya ngga deket lagi sama Adam” aku pun langsung menarik tangan Luna.
Sewaktu masuk kedalam bus aku melihat Adam duduk bersampingan dengan Siska, Siska juga teman kelasku yaaah dia memang selalu centil sama laki-laki. Terpaksa aku dan Luna duduk dibelakang untungnya masih ada 2 bangku kosong di belakang bangku Adam.
“huuh dasar Sitil” bisikku dalam hati
“untungnya kita dapet bangku disebelah sini yah, kalau aja di paling belakang bisa galau kamu karena ngga deket sama Adam” kata luna.
“hussst.. nanti ada yang denger” dengan raut muka yang masih jengkel dengan Siska. Karena perjalanan yang cukup jauh akhirnya kami berdua tertidur.
Tidak terasa desa yang kami tuju sudah dekat, aku pun terbangun karena mendengar suara ‘wahh wahh’ yang selalu berulang-ulang dan ternyata suara itu suara orang-orang yang melihat keindahan desa Kartika, walaupun desa ini kecil tapi pemandangannya begitu indah dipandang.
“ Lun lun banguun!! Lihat kita sudah sampai” dengan mata yang masih berat Luna berusaha membuka matanya, “Haahhh” tiba-tiba matanya melotot karena melihat keindahan alam desa itu “Indah sekali.. waah aku tidak sabar foto-foto lalu aku pamerkan ke facebook hahaha”
“Akhirnya perjalanan panjang ini selesai juga, Lun sini-sini ayo kita foto” ceklik-ceklik bunyi yang terulang-ulang. Aku membalikkan kepalaku kulihat Adam yang sedang memotret keindahan alam, dengan jail aku memfotonya tanpa izin yaah ngga apa apa lah cuman sekali doang. Beberapa lama kemudian Adam pun menghampiri aku dan Luna ‘degdeg-degdeg’ jantungku berdebar-debar.
“e.. Vi, kita semua dipanggil sama guru katanya disuruh makan, kalian belum pada makan kan?”
“ii iya kak” kata ku dengar jantung yang semakin berdebar kencang.
“kalau begitu ayo!”
“baik kak, kami entar nyusul kakak duluan aja” kata Luna
“ya udah saya duluan yahh”
Aku dan Luna menganggukkan kepala “Kok dia bisa tahu nama aku yah? Haaahhhhh.. iyalah dia tahu dia pasti ngga sengaja melihat di papan pengumuman ehh ada nama, aku yah pantas saja lah huuuhh ge’er banget aku ini kalau Adam mencari tahu namaku” dengan mulut manyun aku bicara dengan Luna “bisa aja kali Vi” “hhahhh ngga mungkinlah Adamkan orangnya ngga kaya gitu”.
Aku dan Luna pun pergi mengambil makanan yang telah dihidangkan oleh Pembina, “ehh Vi, Adam tuhh disebelahnya kaya’nya ngga ada orang tuh”
“iya yah, kita kesana aja yuk”. Tiba-tiba “kak Adaamm.. aku boleh makan disini ngga?” “ehh iya silahkan” ternyata Siska yang centil itu datang lagi. Dengan rawut muka yang marah “satuu duaa tigaa empaat lima enaam…” dan begitu caraku untuk menahan emosi akhirnya aku dan Luna makan dibawah pohon.
Aku berjalan-jalan sendirian merenungi kejadian yang terjadi di bus sampai saat makan tadi dan aku pun mulai berfikir dengan wajahku yang mulai galau “apa jangan-jangan Adam suka dengan Siska yaah memang sih Siska itu cantik dibandingkan aku jadi mana mungkin Adam ngga suka sama Siska dan sepertinya imposible kalau Adam bisa suka sama aku”
“Imposible apanya?” tiba-tiba suara yang mirip sekali dengan suara Adam terdengar, aku pun menengok “di dunia ini ngga ada yang namanya Imposible, jadi kamu ngga usah berfikiran tentang kata imposible itu lagi yah”. Aku pun kaget karena itu memang Adam dan aku mulai menangis dan berkata “memang nyatanya ngga ada orang yang suka sama aku kecuali sahabatku Luna” “siapa bilang?” aku sangat terkejut mendengar kata-kata Adam, Adam pun mulai mendekatiku “siapa bilang kalau ngga ada yang suka sama orang yang baik dan kuat seperti kamu, buktinya orang yang dihadapanmu ini” air mata ku mulai berhenti, Adam pun mengeluarkan sesuatu dari belakang badannya dan ternyata itu adalah setangkai bunga mawar, “aku memberikan kamu bunga mawar ini bukan sebagai senior kepada juniornya tapi aku memberikan bunga mawar ini sebagai seorang laki-laki kepada perempuan yang dicintainya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar